h1

Orang Terdekat

April 26, 2016

Seseorang yg punya potensi paling besar menghancurkan hidup kita adalah org terdekat kita.

Orang terdekat kita adalah orang yang paling kita percaya, dengan kata lain dia melihat ketelanjangan kita tanpa make up, tanpa topeng dan tanpa apapun sebagai filter.

Ada pepatah dari entah berantah yang aku lupa pernah denger atau baca di mana, orang terdekat kita adalah calon musuh terbesar kita. Terbukti dengan seringnya kita melihat, pasangan yang begitu mesra diawal, namun setelah masa mesra itu hilang, mereka berubah menjadi sepasang petarung yang tak kenal lelah saling serang.

Itulah yang akan terjadi jika kepercayaan yang kita berikan disalahgunakan, kita selalu merasa bahwa kita adalah satu-satunya orang yang dirugikan. Siapa orang terdekat kita? Bisa siapa saja, pacar, sahabat, bahkan saudara. Apakah kita ga boleh mempercayai orang terdekat kita? Ga ada yang melarang kita untuk percaya dengan orang lain, hanya saja, selalu percaya terhadap diri sendiri itu yang paling utama. Cintai diri sendiri, tanpa membiarkan ego menguasai kita, mudah diucapkan, sangat sulit untuk dipraktekkan, tapi bisa.

Iklan
h1

Meludahi langit

April 5, 2016

Suatu hari seorang lelaki pemarah menemui Sang Kakek.
Dia mendamprat Kakek dengan kata-kata kasar. Sang Kakek mendengarkanya dengan sabar, tenang, dan tidak berkata sepatah pun.

Akhirnya lelaki itu berhenti memaki. Setelah itu, Kakek bertanya kepadanya,”Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?” “Tentu saja menjadi milik si pemberi.” Jawab orang itu.

”Begitu pula dengan kata-kata kasarmu,” timpal Kakek .”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu adalah milikmu.
Kamu harus menyimpannya sendiri. Aku mengkhawatirkan kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata-kata kasar hanya akan membuahkan penderitaan.
Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya.
Ludahnya hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.”

Lelaki itu mendengarkan Sang Kakek dan merasa malu. Ia meminta maaf dan kemudian pergi.

Kita tidak bisa mengotori langit (Meludah ke langit)

 

Sumber: nn

h1

Cinta

Januari 7, 2016

Apa to cinta itu?

Kebanyakan orang mengartikan cinta dengan perhatian, cemburu, peduli, rasa memiliki, dan lebih ke arah hubungan antara dua individu. Apa benar cinta hanya terbatas dalam hal tersebut saja?

Cinta lebih banyak dikatakan daripada dilakukan. Cinta banyak dikatakan untuk menunjukkan rasa memiliki oleh satu individu atas individu lainnya. Lebih banyak kita menemukan kata-kata seperti : aku mencintaimu, maukah kamu jadi pacarku? Maukah kamu menjadi istri/suamiku? Akhiran “ku” tidak pernah ketinggalan menyertai kata cinta. Seharusnya cinta jauh dari keakuan, jauh dari rasa memiliki. Di dalam cinta kita tidak hanya  akan menemukan pengorbanan, kepedulian, atau perhatian, namun juga ketegasan.  Ketegasan?  Ya, ketegasan.  Saat kita mencintai seseorang, apakah kita akan membiarkan orang tersebut melakukan tindakan yang bisa merugikan dirinya dan juga orang lain? Disitulah ketegasan juga dibutuhkan. Tegas yang berarti sikap mendidik, bukan hanya sekedar marah tanpa solusi. Bukan pula hanya marah karena kita tidak menjadi bagian dari cerita orang yang kita cintai. Menjadi bagian atau tidak dari seseorang yang kita cintai itu bukanlah hal yang utama, tetapi memastikan orang yang kita cintai bahagia, itu yang utama. Bahagia with or without me.

Cinta adalah saat kita bisa melepaskan keakuan kita terhadap orang/pihak lain, menjadikan orang/pihak lain menjadi yang utama, seperti lilin kepada kegelapan, seperti matahari kepada tata surya dan bumi.

 

h1

Ih Cantik..

Januari 1, 2016

Sampit, 1 Januari 2016, 00:44

Cantik….

Kebanyakan orang menilai dari apa yang tampak, yang dapat ditangkap oleh indera mata.  Padahal pada hakekatnya setiap wanita diciptakan dan ada untuk menjadi cantik, dan tidak ada wanita yang jelek.  Hanya sayangnya mata yang melihat tidak dapat menangkap sinyal kecantikan yang terpancar dari beragam bentuk wajah atau tubuh seseorang.  Disitulah orang menyebut orang lain jelek.

Selamat tahun baru cantik….

h1

Karma

Januari 1, 2016

Sampit, 31 Desember 2015, 23:44 WIB

Menjelang apa yang orang sering sebut dengan pergantian tahun, yang buatku hanyalah detik yang terus saja bergulir tanpa kompromi, berjalan ke depan dalam sebuah garis linier tanpa cabang(?).

Banyak sudah yang aku lakukan, banyak sudah yang aku tabur, dan ada sebagian yang sudah aku tuai.  Sebagian lagi masih menunggu saat aku menuai, siap atau tidak.

Terkadang kita tidak sadar, bahwa apa yang kita tabur, pasti akan kita tuai, cepat atau lambat, sekarang atau nanti, di sini atau di sana, di kehidupan ini atau di kehidupan selanjutnya. Kita lebih berpikir, lebih peduli pada ancaman dan reward dalam bentuk neraka dan surga, yang lebih mudah di terima. Paradigma seperti ini menjadikan orang berpola pikir pamrih, mau berbuat baik jika ada imbalan, dan takut berbuat salah karena ada hukuman. Berbuat baiklah karena kita mau berbuat baik, bukan karena ingin membuat Tuhan senang, dan hindarilah perbuatan merugikan orang lain dalam bentuk apapun, karena kita sadar bahwa merugikan orang lain itu sama saja mempersempit kesempatan orang, bukan karena takut dimarahi Tuhan. Tuhanku bukan Tuhan yang mempunyai sifat-sifat manusia seperti senang atau marah, Tuhanku hanya menjaga keseimbangan semesta, dalam bentuk apapun. Entah kalau Tuhanmu….

Karma, ya.. karma.  Karma seperti bayangan yang akan selalu mengikuti kita kemanapun kita melangkah. Jika kita membuat orang lain senang, kita pun akan mendapatkan kesenangan baik dari diri kita sendiri maupun dari orang lain.  Tapi jika kita banyak merugikan orang lain, maka kita pun akan mendapatkan kerugian dalam bentuk yang kita tidak sangka-sangka.

What goes around, comes around, and what you give is what you get.

Selamat Tahun Baru 2016

You’re my karma, and I’m glad that it is you..

h1

Undang Undang No 22 Tahun 2009 pasal 134 poin g

Agustus 17, 2015

Masih mengenai kesadaran berlalu lintas, ada sekelompok orang yang notabene berpendidikan, mapan secara ekonomi, dan banyak juga yang mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin, dengan arogannya memanfaatkan celah dalam undang-undang No 22 tahun 2009 pasal 134 poin g untuk kepentingan mereka.

Banyak yang beranggapan bahwa tindakan pihak Kepolisian memberikan pengawalan (otomatis ijin) adalah salah. Namun perlu kita cermati bersama bahwa apa yang dilakukan oleh pihak Kepolisian adalah BENAR menurut Undang-Undang tersebut.

UU no 22 Tahun 2009 Pasal 134 poin “g” yang menyebutkan: “Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu MENURUT PERTIMBANGAN petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia”.

Kata-kata MENURUT PERTIMBANGAN itu adalah pasal karet. Pasal itu MERUGIKAN WARGA dan harus diperjelas karena Polisi memberi ijin tanpa ada kriteria baku. 

Seperti kejadian ini :  menurut pertimbangan Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, konvoi para pengguna kendaraan besar yang jumlahnya ribuan itu bisa dilakukan di jalanan Yogyakarta yang relatif sempit dan padat pada saat jam sibuk. Di lain pihak, masyarakat luas khususnya masyarakat Yogyakarta dirugikan karena perjalanan mereka terganggu oleh sesuatu yang tidak masalah menurut pertimbangan Polisi, tapi menjadi masalah buat masyarakat karena menimbulkan kemacetan dan antrian luar biasa untuk sesuatu yang tidak bisa dinikmati khalayak ramai.

Oleh karena kata: “MENURUT PERTIMBANGAN” dalam UU itu bisa merugikan warga negara lainnya,  jadi harus :

1). Dibatalkan atau
2). Dilengkapi dengan syarat-syarat yang jelas dan tidak mengambang

Jika anda sependapat dengan Saya, silahkan dukung dan tanda tangani petisi yang telah saya ajukan. Terima kasih.

h1

Mudik dan Kesadaran Berlalu Lintas

Juli 28, 2015

Mudik, sebuah kegiatan yang sudah berlangsung lama, menjadi tradisi dan membudaya dan sering dikaitkan dengan kegiatan keagamaan. Apa yang salah dengan mudik? Apakah pendistribusian peredaran uang dari pusat ke daerah walau sesaat? Apakah silaturahminya? Apakah inflasinya? Sepertinya itu semua bisa dimaklumi. Lantas apa yang menjadikan mudik itu sebuah keprihatinan? Ya, angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya.

Berdasarkan berita dari Kompas, korban meninggal dunia, pada 2014 jumlahnya mencapai 714 orang. Sementara tahun ini, jumlah korban meninggal mencapai 657 orang, atau turun sebesar 8 persen. Angka yang kecil dibandingkan dengan jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Tapi coba bayangkan jika jumlah yang meninggal tersebut dianggap terkumpul dalam satu kawasan pemukiman, berapa hari kita sebagai tetangga berkunjung untuk memberikan dukungan moral maupun doa kepada keluarga yang ditinggalkan? Tetaplah angka tersebut adalah sebuah angka yang fantastis.

Siapa yang membunuh para pemudik sampai jumlahnya mencapai ratusan seperti itu? Apakah Presiden yang oleh banyak kalangan dianggap plonga-plongo? Apakah Menteri Perhubungan? Apakah Bina Marga? Apakah Jasa Marga? Jalan tol-nya kah, mobilnya? Atau mungkin NASIB? Apa toh yang bisa dilakukan seorang Presiden, Menteri Perhubungan, Jasa Marga, jalan tol, dan mobil? Sama, mereka hanya fasilitas atau pembuat fasilitas. Jika mudik kita ibaratkan dengan sayur, maka mereka adalah talenan, pisau, kompor,  panci dsb. Apakah dengan fasilitas/bahan yang serba tersedia kita bisa mendapatkan semangkuk sayur? Tentu saja tidak. Kita yang harus mengeluarkan tenaga, berpikir mengenai racikannya, panasnya, menggunakan pisaunya dsb agar tercipta semangkuk sayur yang lezat. Jika kita tidak hati-hati dalam membuat sayur, bisa saja jari kita putus terkena pisau, apa wajah kita hangus terkena api kompor.

Demikian pula dengan mudik. Kebanyakan kecelakaan yang terjadi diawali dengan pelanggaran lalu lintas yang orang tidak sadar bahwa pelanggaran yang dilakukannya adalah berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Pelanggaran yang paling sering berujung kecelakaan adalah pelanggaran kecepatan. Para sarjana teknik sipil bisa menghabiskan waktunya berhari-hari dan mungkin sampai kurang istirahat untuk mendesain, menghitung dan menghasilkan sebuah konstruksi dengan batasan-batasan yang diberitahukan kepada pengguna jalan dalam bentuk jalan dan rambu batasan kecepatan.  Para insinyur mesin menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk menghitung penggunaan ban yang cocok dengan jenis kendaraan yang mereka produksi, dari merk, profil, sampai diameter dan batas kecepatan aman yang bisa dibebankan kepada ban tersebut. Dan semua itu sudah terpampang dengan jelasnya.

Tapi yang terjadi adalah kita/pengguna jalan dengan sombongnya mengabaikan perjuangan para insinyur tersebut tanpa memperhitungkan beban, kecepatan maksimum, dan rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalan. Kesalahan siapakah itu? Presiden, Menteri, Bina Marga, Jasa Marga, kendaraan, atau kita sendiri?

Minimnya kesadaran berlalu lintas adalah sang pembunuh masal tersebut. Dari hal yang paling sepele saja, pemotor lebih memilih meningkatkan resiko jatuh dari pada basah pada saat hujan mulai turun dengan cara ngebut secepat-cepatnya apa lagi jika tujuan sudah dekat. Pengguna mobil lebih memilih resiko terlempar saat terjadi benturan dari pada harus menggunakan sabuk pengaman. Itulah kita, itulah pembunuh yang sebenarnya, bukan jalan, bukan kendaraan, bukan pula orang lain atau bahkan ada yang bilang hantu, angker, dan sebagainya. Selama kita masih main langsung tunjuk dan menyalahkan pihak lain dalam sebuah kejadian, itulah tanda bahwa kesadaran kita belum ada sama sekali.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.