
Gempa (lagi)
Oktober 2, 2009Belum juga pulih kepedihan dan kerusakan akibat gempa di Tasikmalaya, sudah disusul dengen kejadian yang dahsyat untuk ukuran manusia dengan gempa di Padang. Bangunan-bangunan yang dulunya menjadi kebanggaan luluh lantak, dan kebanggaan itupun berubah menjadi tangis sedih.
Gempa, sebuah kejadian yang seharusnya menjadi biasa di negri yang menjadi pertemuan tiga lempeng benua, namun kini menjadi luar biasa. Ya luar biasa dahsyat jika dipandang dari tingkat kerusakan dan jumlah korbannya. Mengapa bisa seperti itu? Kenapa kita menjadi takut dengan gempa? Kita takut dengan orang yang bertampang garang, dengan tato di sekujur tubuh, karena kita tidak mengenalnya. Kita hanya berpikir menuruti apa yang tampak di mata kita. Saat kita sudah mengenal orang yang bertampang garang tersebut, mungkin akan terungkap bahwa sebenarnya orang itu adalah orang yang jujur yang tanpa basa-basi, dan bisa saja lemah lembut dan bersedia membantu tanpa pamrih. Begitu juga dengan gempa, sebuah fenomena alam yang jika kita mengenalnya kita bisa menjadi lebih mengerti bagaimana karakter gempa ini, apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya.
Kita ditempatkan di negeri yang setiap saat, setiap detik ada gempa (meski tidak terasa), namun alam bukanlah seperti kita yang seringkali menempatkan orang lain di posisi yang bukan menjadi bagiannya tanpa bekal. Alam sudah menempatkan kita di daerah gempa, namun alam juga sudah memberi kita bahan-bahan yang tahan terhadap gempa. Tidak hanya memberi dan pas-pasan saja, namun melimpah ruah, tinggal kita memanfaatkannya saja. Namun yang terjadi kita berkiblat pada bangsa lain, yang secara geografik sama sekali berbeda dengan kita. Seperti halnya saat kita memakai bikini buat pergi ke pasar, alih-alih mendapatkan pujian atas badan kita yang seksi dan kulit mulus, namun kita malah mendapatkan cemoohan dan bahkan mungkin dilempari orang karena dianggap gila. Same thing on this case.
Berkaca dari Jepang, sebuah negeri yang juga akrab dengan gempa, dan luar biasanya, mereka bisa lebih mengakrabi dan mengenal gempa itu. Apakah kita harus menunggu seperi Kobe untuk mulai belajar mengenal bumi yang kita tempati?