Puasa, kata yang sering dikaitkan dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan yang katanya penuh berkah. Sebenarnya, apa to puasa itu? Menahan lapar dan haus? Ah…. itu sih sudah biasa buat mereka dari kalangan yang -maaf- kurang mampu. Menahan godaan? Ah, mana ada sih yang menggoda, orang si “penggoda2nya” aja disuruh tutup, bahkan ditakut2i dengan ancaman penjara pula… Terus apa dong?
Puasa, seharusnya identik dengan “laku”, bukan identik dengan berbagai macam penganan khas, identik pula dengan kondisi yang kondusif, bukan pemaksaan kehendak untuk minta dihormati. Puasa seharusnya tentang laku prihatin, menahan segala nafsu duniawi, termasuk nafsu yang paling tipis kadarnya, nafsu ingin dikasihani. Dengan puasa seharusnya kita merasakan apa yang orang lain rasakan, menjadi lebih empati terhadap penderitaan orang, dan menjadi lebih menerima perbedaan daripada mempertentangkannya. Apalah arti puasa jika hanya sekedar memindahkan pola makan, yang seharusnya di siang hari, menjadi malam hari, masih penuh dengan embel2 pemborosan pula. Apalah artinya puasa jika pengeluaran kita untuk hal yg paling pokok -makan- malah menjadi jauh lebih besar dari pada bulan2 yang lain. Apalah artinya puasa jika kita marah melihat orang buka warung atau menjajakan makanan demi kelangsungan hidup mereka? Jika kita berpuasa dengan “laku” seperti itu, kita tidak dapat apa2 selain lapar dan pemborosan.
Bukan pula sebuah penebusan atas kesalahan2 yang kita lakukan di bulan2 sebelumnya, dan pemikiran seperti ini sebenarnya yang paling berbahaya, seolah kita boleh melakukan kesalahan2 dan dikoreksi di bulan yang penuh berkah ini. Mungkin bener bahwa kesalahan (orang lebih suka menyebut dosa) yang kita lakukan mendapatkan penebusan, tapi yang perlu diingat bahwa akibat dari kesalahan itu, konsekuensinya tidaklah bisa dihapus. Alam akan melakukan penyeimbangan dengan caranya sendiri akibat kita mengganggu kestabilan dan harmoni yang demikian apiknya tertata oleh yang Maha Kuasa, dalam sebuah simphoni kehidupan. Kita sering tidak sadar bahwa saat kita melakukan kesalahan itu dengan mengusik tatanan kehidupan (yg paling sederhana ya mengambil apa yang bukan menjadi hak kita) eksesnya bisa sedemikian luasnya, yang untuk memulihkannya tidak cukup hanya dengan sebuah permintaan maaf.
Taro kata kita mencuri uang seorang bapak, yang uang itu sedianya digunakan untuk mendaftarkan anaknya sekolah ke jenjang yg lebih tinggi, apakah cuma senilai uang itu kita merugikan orang itu? Jangan pernah berpikir seperti itu, karena bisa saja karena kehilangan hartanya itu, si bapak tidak jadi menyekolahkan anaknya, si anak menjadi tertunda sekolahnya. Apakah cuma penundaan? Nope, rasa marah si bapak dan mungkin juga si anak, jika tidak bisa terolah dengan baik bisa menimbulkan “kekacauan” yang lebih luas lagi, so apakah kita masih berpikir bahwa kita cuma merugikan si bapak sejumlah X rupiah saja? Dengan berpuasa, diharapkan kita menjadi lebih terbuka mata hati kita, untuk melihat hal2 yang tidak terlihat dengan indera mata kita dan tidak terhitung secara matematis.
Semoga puasa temen2 yang sempet baca tulisan ini adalah puasa yang bener2 sesuai dengan tujuan puasa itu, bukan sekedar memenuhi kewajiban.
Selamat menunaikan ibadah puasa.