h1

Polisi Tidur

November 16, 2011

Namanya saja sudah gak enak, polisi kok tidur, apalagi jika kita bertemu dengan polisi tidur tersebut. Tidak nyaman dan sangat mengganggu.

Dalam konteks pendewasaan insan manusia, polisi tidur bisa dikatakan sangat merendahkan kedewasaan manusia. Lha kok bisa? Ya bisa saja to…
Polisi tidur bertugas melambatkan para pengendara kendaraan bermotor yang melintas di daerah-daerah rawan agar melaju pelan dan tidak menimbulkan kemungkinan-kemungkinan kecelakaan yang merugikan orang lain. Dalam tugasnya sebagai polisi tidur, sang polisi tersebut mengganggu pengendara kendaraan (entah bermotor atau tidak) dengan konturnya yang menonjol. Konteks merendahkannya adalah bahwa sang polisi atau siapapun yang memasang polisi tidur di suatu tempat menganggap bahwa pribadi-pribadi yang melintas tempat itu dengan kendaraan adalah pribadi-pribadi yang tidak peduli keselamatan orang lain, pribadi-pribadi yang tidak bisa melihat tingkat kerawanan suatu daerah / persimpangan, pendek kata pribadi-pribadi yang tahunya hanya gas pol dan rem pol alias bodoh.

Bagi yang pro polisi jenis ini, pasti akan bilang bahwa tanpa adanya polisi ini, pengendara akan seenaknya dan bisa menimbulkan kecelakaan. Tapi, kalo memang proses pendewasaan itu harus melalui sebuah kecelakaan, knapa tidak? Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan membuat dewasa pihak-pihak yang terpaksa. Tanpa pembelajaran, manusia tidak bisa /susah untuk menjadi dewasa.

Nah, apakah anda termasuk orang yang mau diperintah oleh polisi (yang) tidur? Ataukah anda termasuk orang yang sadar mengenai keselamatan diri dan orang lain saat berkendara/berlalu-lintas?

h1

Kolam ikan

Februari 17, 2011

Penyerangan, pembunuhan….  Baru2 ini berita di media massa didominasi oleh dua hal tersebut.  Penyerangan sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah paham ketuhanan, masih ditambah pula dengan pembunuhan atas nama agama. Bentrok di sana, rusuh di sini, rame di sana ribut di sini…

Sebenarnya, apa toh yang sedang terjadi? Kenapa sepertinya selalu ada konflik horizontal? Kenapa sepertinya ada pihak2 tertentu yang “menjaga” agar konflik tersebut selalu ada? Kenapa pihak penguasa sepertinya enggan menyelesaikan kasus dengan latar belakang paham ketuhanan itu?  Kenapa seorang nenek yang mencuri 3 buah kokoa harus diproses dengan cepatnya dan dijatuhi vonis penjara 1 bulan 15 hari, sedangkan pembunuh yang (kabarnya) terekam dengan jelas di video belum juga didakwa?

Berantem, ribut, saling jegal, saling bunuh… Disadari atau tidak, konflik horizontal ini menguras energi kita, menguras konsentrasi kita, dan jelas mengganggu tingkat kekritisan pemikiran kita terhadap hal2 yang lebih besar lagi.  Mungkin agak kurang akurat penggambaran berikut ini, mengingat banyak sekali penyederhanaannya.  Namun tidak ada salahnya kita mencoba sedikit berpikir dan menganalisanya.  Kita seperti sekelompok ikan dalam akuarium, yang sengaja dididik untuk saling membenci, dan berkonflik secara fisik.  Yang terjadi adalah bahwa kita sibuk menyiapkan kelompok kita sendiri untuk menghadapi serangan dari kelompok lawan.  Dan saat kita bertempur, air dalam akuarium akan menjadi keruh dan kita tidak bisa melihat ke luar akuarium.  Kita tidak menyadari bahwa akuarium sudah berpindah tangan, berganti kepemilikan.

Begitu juga (mungkin) yang terjadi di negeri tercinta ini…… Kita disetting untuk selalu berkonflik agar lupa dengan PERAMPOKAN, PERUSAKAN yang terjadi di negeri ini.  Kita dirampok pihak asing dan kita sibuk bertengkar dengan tetangga kita… What an ironic…..  Mungkin teori konspirasi ini akan sangat mudah dimentahkan, dengan berbagai data yang bisa dibuat, namun satu hal yang perlu kita sadari bersama bahwa jika kita terus bertengkar, kita tidak akan pernah punya waktu untuk berpikir bagaimana memajukan dan mensejahterakan serta menjaga negeri ini.

Kita belum merdeka, kita masih sepenuhnya tergantung dari pihak luar, padahal kita punya segudang potensi yang bisa menjadikan kita negeri yang mandiri.  Kita hanya dibiarkan merasa bahwa kita sudah merdeka, agar mereka dengan leluasa merampok, menjarah dan merusak negeri ini.  Melawan tidak harus dengan kegiatan yang destruktif, tapi dengan pembekalan diri yang cukup, agar kita bisa sadar dan tidak bisa dengan mudahnya ditipu.

h1

Perdagangan Anak di sekolah?

Agustus 31, 2010

Sekolah menjadi sebuah industri yang sangat menguntungkan, itu sudah bukan hal yang baru dan aneh lagi.  Bagaimana sebuah sekolah “memeras” tenaga pengajar, menguras kantong wali murid, demi menciptakan “produk” yang secara de yure bernilai bagus.  Soal bagaimana faktanya, itu urusan pribadi masing2, begitu dalih sekolahan, dunia pendidikan yang sudah bergeser menjadi dunia industri, itu bukan hal baru, bahkan sudah menjadi sesuatu yang wajar.

Sekolah, sebagai bagian dari dunia pendidikan, tidak seharusnya terlalu mengkotak2kan kemampuan calon muridnya. Sekolah unggulan, sekolah yang selalu mencetak lulusan dengan nilai yang bagus, apa benar seperti itu? Apa sekolah itu bener2 bisa membuat orang tidak bisa apa2 menjadi orang yang serba bisa? Mereka hanya menerima anak dengan nilai yang tinggi, mengajar dengan gaya standar pengajar di mayoritas tempat di Indonesia, dan wallaa….keluarlah produk dengan nilai yang tinggi.  Sekarang kalau seperti itu, murid ibarat emas, apa membuat emas tetap kinclong itu sebuah usaha unggulan? I dont think so!

Kembali ke sekolah yang sudah bergeser dari dunia pendidikan, ekses yang kita tidak sadari adalah bahwa di sini uang yang lebih berkuasa…sesuatu yang seharusnya haram di dunia pendidikan. Nilai si anak didik bukan diukur dari potensi dan kemampuan, tapi dari seberapa kaya si orang tua, dan berapa banyak duit yang bisa dikuras dari kantong si orang tua.  Contoh kasus, pernah aku denger ada seorang anak TK (anak yang taunya bermain dan bersenang2), karena ketidakmampuannya mengikuti pelajaran -dengan sebab yang tidak diexplore agar bisa dicari solusinya- terpaksa akan tidak dinaikkan ke grade selanjutnya (tinggal kelas).  Si orang tua yang berduit datang, dan dengan santainya bilang, oke kalo anak saya tidak naik kelas, saya akan pindah anak saya ke sekolah lain.  Terbayang sudah di benak para pengurus yayasan sekolah tersebut, lahan tambang emas ini pindah????  Bencana apa pula itu nanti….  Dan setelah dibahas sana sini dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dinaikkanlah si anak tersebut.

Betapa menyedihkannya melihat kasus tersebut, si anak bukan lagi dipandang sebagai manusia yang perlu belajar, baik itu belajar kedisiplinan, kesuksesan, maupun kegagalan, melainkan hanyalah objek (barang dagangan).  Objek dari keangkuhan orang tua, objek pendulang pundi2 sekolah (yang belum tentu sampai ke para tenaga pengajar).  Jika dari kecil si anak sudah melihat praktek jual beli seperti itu, dan merasakan manfaatnya jika punya uang semua masalah akan beres, apa salah kalo negeri kita menjadi negeri dengan budaya korup? Apa salah kalo pada akhirnya nanti generasi penerus menjadikan uang sebagai tuhan mereka?

h1

Merdeka??

Agustus 18, 2010

Kata yang sering banget kita dengar di bulan Agustus, bulan yang membawa kita ke tahapan selanjutnya sebagai bangsa dan negara.  Tahapan dimana kita seharusnya secara mandiri mengatur tatanan kehidupan sebagai sebuah bangsa dalam sebuah negara yang disebut Republik Indonesia.  Merdeka saat itu berarti bebas dari penjajahan, bebas dari penguasaan asing yang menghisap sumber daya kita untuk kemakmuran bangsa asing tersebut.  Kita bebas menggunakan sumber daya apa saja yang ada di negri ini untuk dimanfaatkan demi kemakmuran dan kemajuan bangsa kita sendiri.  Memang, kita sempat merdeka, sempat pula “dimusuhi” oleh negara2 maju, dimusuhi karena kita tidak mau begitu saja dijadikan pasar atas produk2 mereka dari barang, jasa, termasuk ideologi.  Dan hasilnya adalah kita dilawan, dibeli  dengan memanfaatkan kerakusan para penguasa yang kaget (kere munggah bale).

Kembali kita dijajah, dibodohi, dihisap dengan cara yang lebih halus, dengan cara yang katanya lebih bermartabat.  Dan celakanya kita sendiri yang mentalnya mental terjajah demikian mudahnya diadu domba, di hasut, dan ditipu.  Kita menjadi bangsa yang tidak percaya diri, yang selalu menganggap produk dan person dari luar selalu lebih baik, selalu unggul dibandingkan dengan produk dan orang2 kita sendiri.  Bahkan yang menyedihkan lagi, sering aku lihat iklan produk dalam negeri-pun harus menggunakan orang dari luar agar seolah produk itu diakui oleh orang2 tersebut dan tentunya produknya di klaim lebih baik dari produk yang lainnya yang serupa.  Lucu saat mendengar sebuah produk buah unggulan hasil dari pengembangan anak negri harus diberi nama dengan nama sebuah tempat di luar sana agar laku dan layak dipajang di supermarket2 besar di Indonesia.  Sedemikian parahnya mindset kita….

Itukah yang disebut merdeka? Bahkan dari pemikiran kitapun masih terseting dengan pemikiran bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tertinggal, bukan bangsa yang sejajar dengan mereka yang menjadi maju dan  kaya karena mengeruk harta kita…  Kemerdekaan tidak akan tercapai jika pikiran kita masih terbelenggu, masih merasa bahwa kita lebih rendah dibandingkan bangsa lain, yang kita dapatkan hanyalah status, bukan kemerdekaan sesungguhnya.  Itu semua hanya bisa didapat dengan pencerdasan diri, dan perluasan wawasan.  Terpelajar bukan berarti membodohi mereka yang belum belajar, berwawasan luas bukan berarti menjadi sombong.

So set our mind free, and here comes the freedom…

h1

Puasa

Agustus 16, 2010

Puasa, kata yang sering dikaitkan dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan yang katanya penuh berkah.  Sebenarnya, apa to puasa itu? Menahan lapar dan haus? Ah…. itu sih sudah biasa buat mereka dari kalangan yang -maaf- kurang mampu. Menahan godaan? Ah, mana ada sih yang menggoda, orang si “penggoda2nya” aja disuruh tutup, bahkan ditakut2i dengan ancaman penjara pula… Terus apa dong?

Puasa, seharusnya identik dengan “laku”, bukan identik dengan berbagai macam penganan khas, identik pula dengan kondisi yang kondusif, bukan pemaksaan kehendak untuk minta dihormati.  Puasa seharusnya tentang laku prihatin, menahan segala nafsu duniawi, termasuk nafsu yang paling tipis kadarnya, nafsu ingin dikasihani.  Dengan puasa seharusnya kita merasakan apa yang orang lain rasakan, menjadi lebih empati terhadap penderitaan orang, dan menjadi lebih menerima perbedaan daripada mempertentangkannya.  Apalah arti puasa jika hanya sekedar memindahkan pola makan, yang seharusnya di siang hari, menjadi malam hari, masih penuh dengan embel2 pemborosan pula.  Apalah artinya puasa jika pengeluaran kita untuk hal yg paling pokok -makan- malah menjadi jauh lebih besar dari pada bulan2 yang lain.  Apalah artinya puasa jika kita marah melihat orang buka warung atau menjajakan makanan demi kelangsungan hidup mereka? Jika kita berpuasa dengan “laku” seperti itu, kita tidak dapat apa2 selain lapar dan pemborosan.

Bukan pula sebuah penebusan atas kesalahan2 yang kita lakukan di bulan2 sebelumnya, dan pemikiran seperti ini sebenarnya yang paling berbahaya, seolah kita boleh melakukan kesalahan2 dan dikoreksi di bulan yang penuh berkah ini.  Mungkin bener bahwa kesalahan (orang lebih suka menyebut dosa) yang kita lakukan mendapatkan penebusan, tapi yang perlu diingat bahwa akibat dari kesalahan itu, konsekuensinya tidaklah bisa dihapus.  Alam akan melakukan penyeimbangan dengan caranya sendiri akibat kita mengganggu kestabilan dan harmoni yang demikian apiknya tertata oleh yang Maha Kuasa, dalam sebuah simphoni kehidupan. Kita sering tidak sadar bahwa saat kita melakukan kesalahan itu dengan mengusik tatanan kehidupan (yg paling sederhana ya mengambil apa yang bukan menjadi hak kita) eksesnya bisa sedemikian luasnya, yang untuk memulihkannya tidak cukup hanya dengan sebuah permintaan maaf.

Taro kata kita mencuri uang seorang bapak, yang uang itu sedianya digunakan untuk mendaftarkan anaknya sekolah ke jenjang yg lebih tinggi, apakah cuma senilai uang itu kita merugikan orang itu? Jangan pernah berpikir seperti itu, karena bisa saja karena kehilangan hartanya itu, si bapak tidak jadi menyekolahkan anaknya, si anak menjadi tertunda sekolahnya.  Apakah cuma penundaan? Nope, rasa marah si bapak dan mungkin juga si anak, jika tidak bisa terolah dengan baik bisa menimbulkan “kekacauan” yang lebih luas lagi, so apakah kita masih berpikir bahwa kita cuma merugikan si bapak sejumlah X rupiah saja?  Dengan berpuasa, diharapkan kita menjadi lebih terbuka mata hati kita, untuk melihat hal2 yang tidak terlihat dengan indera mata kita dan tidak terhitung secara matematis.

Semoga puasa temen2 yang sempet baca tulisan ini adalah puasa yang bener2 sesuai dengan tujuan puasa itu, bukan sekedar memenuhi kewajiban.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.